Rabu, 02 Juli 2014

Catatan dari tepi Rimba Bukit Duabelas

Rabu, 02 Juli 2014
Oleh Ananda Firman Jauhari


Luar biasa... Kawan-kawan Kari Kecingkul melakukan penelusuran sejarah dari para pelaku sejarah, dari bangunan-bangunan yang dibangun sedari zaman Ratu Belanda dan masih diagungkan di bumi nusantara, dan ketika kata Indonesia masih dianggap Subversif waktu itu sampai penelusuran ke monumen-monumen yang dibangun setelah kata Indonesia menjadi sebuah mimpi yang jadi kenyataan tapi penuh pertanyaan.

Apa yang kalian lakukan adalah perjuangan. Walaupun perjuangan adalah sikap yang aneh zaman sekarang, karena kemapanan pola pikir mayoritas bahwa kemapanan materi menentukan harkat dan martabat individu.

Kita yang belajar sejarah juga tahu dulu hanya kaum minoritas yang berjuang. Dan tetap percayalah nantinya ini akan menjadi besar karena ghirrah-nya terpancarkan.

Selamat merangkai keping demi keping.

Terimakasih Untuk Pancaran Semangatnya.

Salam dari tepi Rimba Bukit Duabelas, Provinsi Jambi, 2 Juli 2014

Selasa, 01 Juli 2014

Monumen di Kaki Gumuk Baung

Selasa, 01 Juli 2014

Dokumentasi oleh Pije, 1 Juli 2014

Tadi sore ketika melintas di Desa Sukoreno Kecamatan Kalisat, kami mampir di Monumen ini. Menurut warga, mulanya di sini terdapat tiga tugu yang menjulang, kini hanya tersisa satu. Dua lainnya roboh dan terkesan dibiarkan begitu saja.

Monumen yang berada tepat di kaki Gumuk Baung ini diresmikan di masa kepemimpinan Soeryadi Setiawan, 14 Oktober 1986.

Melihat catatan di batu marmer, monumen ini sengaja dibangun untuk mengingat dua pertempuran, pada 1947 dan pada 1949, di masa revolusi.

Dikabarkan oleh Koran Pelita Rakjat tanggal 1 Februari 1949 bahwa perkebunan Sukoreno dan perkebunan Kalianget --semuanya di daerah Jember, telah dibakar habis. Juga perkebunan Jelbuk telah mendapat serangan hebat oleh pejuang-pejuang tanah air.

Melihat bekas lokasi pertempuran, saya jadi teringat kata-kata para sesepuh yang pernah turut berjuang. Mereka bilang, Gumuk adalah infrastruktur alami sebagai penunjang perang gerilya.

Kini Gumuk-Gumuk di Jember bernasib buruk, justru pada saat negeri ini telah merdeka.

Senin, 30 Juni 2014

Menara Air Stasiun Kalisat

Senin, 30 Juni 2014

Menara Air Stasiun Kalisat Kabupaten Jember

Menara air kereta api ini tak lagi berfungsi. Lokasinya masuk di desa Ajung kecamatan Kalisat, dengan jarak sekitar 200 meter dari Stasiun Kalisat. Dulu, menara air berfungsi untuk mengisi air buat loko uap.

Tampak dalam foto, di sebelah kiri menara air terdapat pagar pembatas. Kini pagar itu digunakan untuk memberi batasan ruang gerak pada ayam peliharaan agar tidak berkeliaran kemana-mana. Ayam-ayam tersebut milik Bapak Haji Sukardi. Rumah Haji Sukardi --Purna PJKA-- tepat di samping menara air.

Di sekitar menara air terdapat beberapa rumah yang merupakan komplek asrama militer. Tak jauh dari sana juga ada Aula PEPABRI. Masih di lingkungan yang sama, di sana ada sebuah rumah yang menyisakan arsitektur Belanda. Dulu di masa Agresi Militer tahun 1947-1949, ia digunakan sebagai markas KNIL. Pasukan Cakra Madura juga ditempatkan di areal sekitar menara air.
Sudut Kalisat © 2014