Minggu, 01 Maret 2015

Sukowono 1910

Minggu, 01 Maret 2015
Jika melihat bilik kerja seorang karyawan Belanda di Sukowono seperti gambar yang tersimpan di KITLV Leiden ini, maka kita bisa mengukur bagaimana tingkat kerapian mereka. Tepat di bawah meja terdapat sebuah kotak kecil, itu adalah tempat sampah. Terlihat pula sebuah bollpoint yang diikat dengan tali lalu dipasangkan dengan semacam miniatur sebuah tiang.


Bilik kerja seorang karyawan Belanda di Sukowono

Tampak foto-foto tertempel di tembok di depan meja. Ada foto seorang perempuan, mungkin Ratu Belanda Wilhelmina. Ia dilantik sebagai ratu tahun 1898. Pada 7 Maret 1910, Ratu Wilhelmina merubah Papua menjadi Provinsi sendiri di luar Hindia Belanda, menjadi Provinsi Netherlands New Guinea, dengan Manokwari sebagai Ibukotanya. Gubernur terpilihnya adalah Class Lulof, meninggal dunia di Manokwari pada tahun 1922.

Maaf, tulisan ini tiba-tiba membahas kejadian di tahun 1910. Bukan tanpa alasan. Di foto tersebut terdapat sebuah kalender, di sana tertera Maret 1910.


Kalender menunjukkan bulan Maret 1910

Jika kita jeli memperhatikan foto, di sebuah tumpukan buku di sudut kanan meja terdapat buku dengan judul; Beekman Schulling-Atlasder Geheele Aarde. Itu adalah atlas dunia. Hal pertama yang harus dikuasai jika ingin menjadi penjajah di masa itu adalah penguasaan pada peta wilayah.

Bagaimana situasi Sukowono di tahun 1910? Tentu ramai, ia menjadi pusat kota perkebunan di Jember wilayah Utara yang berwajah Eropa. Saat itu di sana telah ada De Landbouw Maatschappij Soekowono milik Fransen van de Putte, bersamaan dengan semakin bertumbuh-pesatnya De Landbouw Maatschappij Oud Djember milik George Birnie. Perkebunan paling dekat dengan Sukowono adalah perkebunan di Djelboek milik Du Ry van Best Holle dan Geertsma, serta De Landbouw Maatschappij Soekokerto-Adjoeng milik keluarga Baud.

Di tahun yang sama, pihak perkebunan di Jember membuka layanan rumah sakit Djemberscheklinik. Ia sengaja dibangun untuk memberikan layanan pengobatan bagi karyawan-karyawannya.

Jika membaca artikel tentang sejarah Djemberscheklinik, disebutkan bahwa setelah Indonesia merdeka, semua perusahaan perkebunan dinasionalisasi pada tahun 1956. LMOD pun berubah menjadi PTP XXVII, PTP XXVI dan PTP XXIII di Kabupaten Jember. Kemudian pada 14 Februari 1996, ketiga PTP tersebut melakukan fusi, dan hasil dari peleburan tersebut di bawah naungan PT. Perkebunan Nusantara (PTPN) X. Termasuk juga RS Jember Klinik, akhirnya menjadi salah satu dari tiga unit bisnis strategis yang dimiliki oleh PTPN X.

Sukowono juga telah memiliki sebuah Orkestra bernama blaasorkestje, di bawah naungan Soekowono tabaksonderneming. Pemainnya adalah para karyawan perkebunan.


Meja karyawan yang lain, masih di Sukowono dan di tahun yang sama

Jika melihat foto pembanding di atas --Karyawan Belanda yang lain-- tentu masalah kerapian meja kerja menjadi syarat penting bagi karyawan perkebunan Belanda di Sukowono dan di tempat-tempat yang lain.

Selain jalur-jalur kereta api yang pada tahun itu sudah bisa dinikmati di Sukowono, Belanda juga membuat banyak saluran irigasi untuk menunjang kinerja di bidang perkebunan.

Itulah wajah Sukowono di tahun 1910 jika dilihat dari meja kerja karyawan perkebunan Belanda.

Jumat, 23 Januari 2015

Ko'ong Bunter

Jumat, 23 Januari 2015
Istilah KO'ONG BUNTER ini saya jumpai di Jember wilayah Utara, tepatnya di desa Ajung kecamatan Kalisat. Ko'ong Bunter adalah gambaran untuk seseorang yang sudah tidak memiliki siapa-siapa. Tak ada orang tua, tak ada saudara kandung. Jadi, orang-orang di Madura hingga di wilayah tapalkuda memiliki istilah sendiri untuk menggambarkan seseorang yang hidup sebatang kara.

Ana’ se ta’ andi’ taretan ban a dhina mate oreng towana enyamae ko'ong bunter.
Hasil wawancara dengan Ibu Sulasmini pada Jumat sore, 23 Januari 2015

Kamis, 22 Januari 2015

Dimanakah dusun Tanah Kembang

Kamis, 22 Januari 2015
Oleh: RZ Hakim

Teman-teman Kari Kecingkul di Kalisat, mungkin ada di antara Anda yang bisa membantu Bunda Joyce Köhler. Ia dulu memiliki masa kecil di jember hingga beranjak besar. Tahun 1968 Bunda Joyce pindah ke kota lain. Seperti yang ia tuliskan di sebuah komentar di jejaring sosial facebook.

"Aku tidak lahir di Jember tapi masa kecil dan remaja ada di Jember. Tahun1949 s/d 1959 tinggal di JL. Kamar Bola/JL. Bondowoso. Kini menjadi JL. PB Sudirman 56, depan Rumah Sakit DKT. Lalu antara tahun 1959 s/d 1968 aku tinggal di JL. Raung, di JL. Irian Nomor 3 di depan Rumah Sakit Jember klinik. Jadi dari TK sampai UNED di Jember."

Ayahanda Bunda Joyce Köhler bernama Freddy Rudi Paul Köhler, lahir sekitar tahun 1914. Meninggal dunia di Jember tahun 1959. Kata Bunda Joyce Köhler, antara tahun 1983-1984, makam Ayahnya dipindahkan ke Bogor.


Makam Freddy Rudi Paul Köhler. Foto dari Facebook Bunda Joyce Köhler

Freddy Rudi Paul Köhler mengabdikan hidupnya di Jember sebagai pendidik hingga akhir hayat.

Teman-teman, ini yang ditanyakan oleh Bunda Joyce.

Dimanakah dusun Tanah Kembang

Mungkin masih ada yang ingat ..... Saya pernah main ke Antirogo daerah Arjasa/Kalisat mungkin???? Ada kayak kubangan gitu, yang dalam tapi bisa kita lari diatasnya. Anak-anak kecil sering main bola. Tapi goyang karena bawahnya air. Seekor sapi masih dapat berdiri di situ nggak tenggelam. Kalau masih ada kan keren he he he.

Ya rawa-rawa....... Wis tuo lali jenenge he hehe.

Membaca beberapa komentar jawaban, kiranya dusun yang dimaksud berada di Antirogo, Jember.


Sewaktu kecil saya sering diajak blusukan ke kampung Antirogo, orangnya ramah-ramah dan kalau lebaran kue kering kampungnya yang saya suka, he he he. Dasar anak-anak...

Dulu jalannya masih bisa dilalui sepeda/motor, masih perkampungan.... Mungkin sekarang udah rumah-rumah bagus-bagus.
Sudut Kalisat © 2014