Tampilkan postingan dengan label Diskusi Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Diskusi Sejarah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 Juli 2014

Buber dan Diskusi Sejarah

Minggu, 13 Juli 2014
Tanda-tanda gerimis memang telah nampak sejak sore, namun kawan-kawan masih berharap cuaca akan baik-baik saja. Terpal biru terhampar di pelataran Kalijejer, menutupi rerumputan. Benar kata para orang tua, kita hanya mampu berencana, sedang penentunya tetap Tuhan YME.

Sekira sepuluh menit sebelum adzan maghrib, rintik-rintik gerimis pun berjatuhan. Terpal biru segera kami amankan, lalu kita memutuskan untuk menggelar buka puasa bersama di bawah atap. Beberapa teman tampak sibuk mengurusi penerangan.


Buber dan Diskusi Kari Kecingkul, 12 Juli 2014

Alhamdulillah, pada akhirnya buber bisa dilaksanakan dengan lancar dan gembira.

Seusai buber, Cak Dainuri dan beberapa orang melaksanakan ibadah sholat maghrib. Mereka mengambil air wudhu di sungai. Banyak pula yang memilih untuk ngobrol atau menikmati rokok.

Salah satu dari kami berinisiatif untuk menyalakan sound system pinjaman dari Cak So - ETOS. Kebetulan Cak So hadir juga di acara ini. Ohya, datang pula Mas Anes, si empunya CV. Jawadwipa --bergerak di bidang usaha beras, ia selalu support acara muda-mudi Kalisat. Buber kali ini, Mas Anes menyumbang berasnya. Terima kasih Cak So, terima kasih Mas Anes, terima kasih semuanya.

Belum selesai.

Mas Revo dan Cak Har datang terlambat, saat makanan sudah ludes. Kami sepertinya juga lupa tidak memberinya stiker Kari Kecingkul. Maap.

Acara dilanjut dengan diskusi santai. Mas RZ Hakim yang memulainya, sebentar saja. Lalu obrolan itu dilanjutkan oleh Cak Dainuri. Ia banyak bicara tentang sejarah, serta hubungan sejarah dengan cinta tanah air, cinta lingkungan, budaya, adat istiadat, sampek ngomong tentang blettang.

Sudah, gitu dulu ceritanya. Salam saya, Arifin Nyek KOnyeg.

Sabtu, 08 Februari 2014

Diskusi Sejarah Lokal di Dawuhan Kembar

Sabtu, 08 Februari 2014
Kemarin, di jejaring sosial Facebook, teman-teman dari Tamasya Band membuat status seperti ini, "Ingat saat kita Diskusi ‪‎Save Gumuk‬ di Dawuhan Kalisat? Nah, di sanalah nanti kita berjumpa, di sebuah tempat bernama Kalijejer. Sabtu sore, kopi, dan bincang sejarah lokal." Rupanya banyak teman-teman yang membaca pesan tersebut. Hari ini, sebagian dari mereka merapat di Dawuhan Kembar, batas desa antara Ajung dan Plalangan, Kalisat.

Ketika berangkat menuju lokasi, teman-teman banyak yang terjebak hujan. Tadi sore hujan deras sekali. Pasar Kalisat juga terendam air setinggi sepuluh Cm. Kami sendiri terjebak hujan di desa Biting kecamatan Arjasa. Syukurlah tak lama kemudian hujan mereda.

Sesampainya di Dawuhan Kembar, tampak di sana-sini banyak teman yang mengenakan kaos hijau muda lengan panjang. Mereka dari SMA Negeri 1 Kalisat yang tercatat sebagai sispala EXPA.


Diskusi sejarah di Dawuhan Kembar-Kalisat, 8 Februari 2014

Tadinya diskusi hendak dilaksanakan di luar ruangan, bergaya pesta kebun. Tapi hujan deras di sore hari mengharuskan kami melakoni rencana B, diskusi di dalam ruangan. Tentu masih bersama kopi dan obrolan-obrolan seputar sejarah Jember; tentang siapa itu Letkol Moch. Sroedji, dan tentang hari ini enam puluh lima tahun yang lalu. Benar, tentang pertempuran Karang Kedawung, 8 Februari 1949.

Ada pertanyaan menarik saat diskusi berlangsung. Pertanyaan itu datang dari Ari Zona Rambi, siswa SMAN 1 Kalisat kelas sepuluh. Ia bertanya, "Sroedji asli mana? Kenapa harus ditokohkan di sini?"

Pertanyaan yang cerdas dari seorang lelaki berwajah malu-malu yang mengenakan kaos hijau muda lengan panjang. Saya kira, Ari Zona Rambi kelak akan menjadi seorang lelaki yang berkarakter. Semoga benar begitu, Amin.

Saya katakan kepadanya dan kepada seluruh peserta diskusi yang lain, bahwa kita tidak bisa memilih untuk dilahirkan di mana, tetapi kita diberi kesempatan seluas-luasnya untuk memilih berjuang di mana saja.


Berbincang santai seusai diskusi

Diskusi telah usai, hujan juga telah mereda. Di luar sana disediakan terpal yang menutupi rerumputan, tepat di bawah sinar lampu neon. Kawan-kawan bergeser, berkumpul di tepat di bawah sinar lampu. Tingkah mereka mirip sekali seperti laron-laron yang mengejar cahaya.


Dari kiri ke kanan: Poetri, Fainani, Hana, Melly

Usai sudah acara Diskusi Sejarah Lokal, tadi sore bertempat di Dawuhan Kembar-Kalisat --Dawuhan Kembar biasa disebut Kalijejer oleh teman-teman Kalisat. Terima kasih untuk Mas Ivan Bajil, Ko Heru, Arifin Nyek, Odong, dan semua sedulur EXPA SMAN 1 Kalisat yang menggagas dan membantu mewujudkan acara ini. Juga buat seluruh kawan-kawan yang hadir, terima kasih.

Untuk rombongan dari SWAPENKA, terima kasih. Buat Cak Ahmad Dainuri, Mas Riyadi Ariyanto beserta istri, sakalangkong. Redi yang punya Cafe Kalijejer bergaya pesta kebun, terima kasih.

Odol dan Bang Korep, yang tadi tak lelah menikmati perjalanan Kampus Bumi Tegalboto-Kalisat meskipun beberapa kali motornya mogok oleh sebab rantainya lepas, terima kasih. Untuk Ary Yanuar Hidayat dan Poetri Maharani, dua kawan Jember yang kuliah di Malang, terima kasih telah datang, meskipun saat berangkat sempat terjebak hujan yang deras.

Terima kasih dan salam lestari!
Sudut Kalisat © 2014