Selasa, 17 Juni 2014

Kantor Pos Kalisat

Selasa, 17 Juni 2014

Hulppost- en telegraafkantoor te Kalisat

Ini foto Kantor Pos Kalisat, di lokasi yang sama. Dijepret sekitar tahun 1930. Sumber dari sini.

Adapun gedung tersebut kini masih dimanfaatkan sebagai Kantor Pos di Kalisat, dengan sedikit sentuhan di sana sini. Dulu jalan menuju Kantor Pos Kalisat masih bernama JL. Stasiun, sebab memang mengarah ke Stasiun Kalisat. Kini alamat Kantor Pos Kalisat adalah JL. Cokroaminoto No. 24 Kalisat, 68193.


Kantor Pos Kalisat kini - Dokumentasi Kari Kecingkul

Senin, 16 Juni 2014

Teatrikal Pasukan Sroedji di Kalisat

Senin, 16 Juni 2014

Teatrikal Perjuangan Pasukan Sroedji oleh Teman-teman Kalisat, 13 Juni 2014

Saya terharu ketika melihat aksi teatrikal kawan-kawan muda Kalisat tiga hari yang lalu. Bukan karena mereka tampil sempurna, bukan pula karena kostum yang dikenakan. Saya terharu sebab sangat mengerti bagaimana mereka mempersiapkan ini semua.

Adalah Wahyu Muhammad Arif, siswa SMAN 1 Kalisat yang baru lulus tahun ini, ia bertugas membaca dan memahami isi novel karya Irma Devita. Kemudian, Wahyu mengumpulkan rekan-rekannya dan menuturkan isi novel tersebut.

"Waktunya mepet Mas, sementara kami hanya punya satu novel saja."

Kepada Wahyu saya meminta maaf. Saya bilang, novel milik kami dipinjam oleh teman, setelah selesai akan dipinjam lagi oleh teman yang lain. Begitu seterusnya, mungkin dalam waktu yang lumayan lama. Seperti pohon faktor. Dia bilang, tidak masalah sebab telah mengerti harus bagaimana membuat alur teatrikal.

Bagaimana dengan kostum?

"Kami tidak punya kostum-kostum perjuangan Mas, tapi kami akan mengusahakannya. Jika tidak ada, mungkin kami akan memakai baju milik Bapak kami masing-masing. Kalau yang ada hanya baju seragam guru, ya sudah itu saja yang kami pakai. Sing penting kostum gawe pemeran Letkol Moch. Sroedji kudu apik Mas."


Tampak dalam foto, Putri Sroedji diberi cinderamata oleh Kades Ajung, Yusri Irawati

Ya, saya masih mengingatnya.

Benar juga, ketika tiba waktunya, saya melihat kostum-kostum itu. Sangat sederhana. Ada yang hanya memakai kaos Oi dan bercelana pendek, ada juga yang menggunakan seragam pegawai negeri milik orang tuanya.

Di pembuka teatrikal, adaaa saja orang dewasa yang nyeletuk mencoba menggoda para pemain. Tapi lama-lama mereka membisu juga.

Saya sering menundukkan kepala. Ketika mendongak entah yang keberapa kalinya, saya melihat penampilan si Tejo. Dia terlihat ekspresif.


Para penonton teatrikal memenuhi tempat yang disediakan

Beberapa hari sebelumnya saya sempat bercanda dengan Tejo dan teman-temannya, ketika mereka sedang membuat katil. Tejo digojloki oleh para sahabatnya sebab dua kali tidak naik kelas. Tejo tidak marah, dia tersenyum saja. Ketika melihatnya turut berperan di acara teatrikal yang serba sederhana, tentu saya bangga. Tejo cerdas di bidangnya, hanya saja mungkin guru-gurunya belum menyadari bidang apakah itu.

Di penghujung teatrikal, saya semakin menundukkan kepala. Sebabnya, ada seorang gadis membacakan puisi --yang ada di dalam novel-- dengan simpel tapi menusuk.

Ini teatrikal yang biasa, jauh lebih sederhana dari teatrikal manapun yang pernah ada. Namun, mereka membuat saya menundukkan kepala.

Teman-teman, kalian keren!

Sabtu, 07 Juni 2014

Badut Sejati Dari Kalisat

Sabtu, 07 Juni 2014

Mas Opik - Dokumentasi Pribumi Advertising

Saya masih ingat ketika pertama kali berjumpa dengannya. Ia mengenakan hem warna cerah, bersarung, lengkap dengan songkok yang dipelorotkan ke dahi hingga mendekati tengah alis. Wajahnya tampak ceria, tak kentara jika enam tahun lagi usianya genap setengah abad.

Caranya bercerita terbilang cerdas, membuat ekspresi wajah pendengarnya berubah-ubah. Kadang serius, kadang tertawa ngakak. Dia memulai kisahnya saat bekerja sebagai sopir ambulance sejak pertengahan tahun 1990an. Lalu, pada kisaran 2007, ia menjabat sebagai carik atau sekretaris desa di desa Sukosari.

Saya terkesan ketika dia bertutur tentang penggalan pengalaman saat menjadi sopir ambulance.

"Paling apes itu kalau harus mengangkut jenasah orang yang meninggal dengan cara tidak normal. Kadang tubuhnya tidak bisa diluruskan. Saya masih harus menyiramnya dengan air panas."

Meski ceritanya sedikit seram, namun lelaki bernama lengkap Taufik Dwi Septiarso ini pandai sekali merangkainya dengan humor-humor segar.

Ada juga sih kisah sedihnya, ketika lelaki kelahiran 27 September 1970 ini harus pontang panting mencari duit untuk biaya pendidikan salah satu anaknya. Suatu hari buah hatinya meminta uang. Lalu ia bertanya, uang itu untuk digunakan kapan? Eh, ternyata hari terakhir pembayaran adalah esok harinya.

"Ya sudah, demi anak BPKB pun ikut sekolah!"

Melihat caranya mengisahkan pengalaman hidup, saya tersenyum, meski tetap menyisakan ruang empati.

"Pekerjaan yang paling banyak suka dukanya itu ya Badut. Saya bahagia menatap senyum bocah-bocah, kadang juga merasa kasihan ketika ada yang menangis histeris melihat tampilan saya. Ya, itu peran yang harus saya jalani. Menjadi badut adalah tentang membahagiakan orang lain, meski kadang kita sendiri sedang ada di suasana hati yang tak prima."

Keren!

Menjadi badut tak semudah yang saya kira. Jika kita jatuh, labu napang, anak-anak kecil bakal bersorak. Dikiranya itu bagian dari atraksi. Kita juga harus siap tampil meski hanya di depan seorang perempuan hamil yang sedang ngidam.

Berani menatap hidup, berani bermanfaat untuk orang lain. Setidaknya, itu falsafah yang saya dapatkan dari seorang lelaki beranak dua yang akrab dipanggil Mas Opik ini.

Mas Opik, ia menyegarkan kembali ingatan kita semua bahwa setiap orang adalah guru bagi kita dan setiap tempat adalah sekolah bagi kita.

Terima kasih inspirasinya, Mas. Salam Kari Kecingkul.

*Hasil obrolan awal Juni 2014
Sudut Kalisat © 2014