Jumat, 27 Maret 2015

Ketika Warga Jember Dihina di Facebook

Jumat, 27 Maret 2015
Baru empat bulan yang lalu masyarakat Indonesia tercuri perhatiannya oleh kasus Florence Sihombing, Mahasiswa S2 Universitas Gadjah Mada yang terjerat UU ITE karena dianggap menyebarkan penghinaan terhadap masyarakat Yogyakarta. Kini, di bulan Maret, warga Jember dibuat geleng-geleng kepala oleh tingkah Hariyanto alias HVQ, warga kabupaten probolinggo kelahiran 17 Mei 1988. Melalui sebuah group di jejaring sosial Facebook, pada hari Jumat, 6 Maret 2015 Hariyanto menuliskan uneg-uneg di hatinya.

Jember benjir Dulat...mnder tamba'ah rajeh benjir reh..mole lah mateh kabbi reng jember jiah..jember taeh

Dengan menggunakan bahasa Madura, Hariyanto terang-terangan menghina warga Jember, berdoa semoga banjir semakin besar biar masyarakat Jember mati semua. Ia menutup kalimat itu dengan menyebut 'Jember Taeh' alias menghujat Jember dengan kotoran manusia.

Ketika itu beberapa wilayah di Jember memang sedang terjadi banjir. Banyak warga yang update status tentang kejadian banjir ini. Aksi dari Hariyanto itu tentu segera mendapatkan reaksi. Tidak sedikit pemuda Jember yang membalas celometan dari Hariyanto. Suasana di group Facebook yang beranggotakan 78.766 akun itu menjadi panas.


Hariyanto, pelaku penghinaan di Facebook

Tidak menunggu waktu lama, esok harinya --7 Maret 2015-- kasus penghinaan ini dilaporkan ke Mapolres Jember. Adalah Febri Ary, warga Krajan Sumbersari Jember, ia turut ke Mapolres bersama 6 warga lainnya untuk melaporkan kelakuan Hariyanto. Mereka berangkat ke Mapolres dengan menggenggam keresahan yang sama. Saya membaca ini di media online suarajatimpost.

Hari-hari selanjutnya, wall Facebook di group itu dipenuhi foto-foto dan komentar tentang Hariyanto.

Pada hari Kamis, 26 Maret 2015, dunia maya se-Indonesia sedang ramai pemberitaan tentang Saut Situmorang. Di twitter ada hastag Save Saut. Hari itu sastrawan Saut Situmorang dijemput paksa oleh anggota Polres Jakarta Timur di kediamannya di Jalan Danunegaran Mantrijeron, Yogyakarta. Banyak yang memberikan dukungan moril kepada Saut. Ia diadukan Fatin Hamama pada 2014 silam karena dianggap berkomentar keras di sebuah group Facebook.

Di hari yang sama, ketika Saut Situmorang dijemput paksa oleh polisi, Tim KOber --Komunitas Orang Jember-- sedang melacak rumah Hariyanto di Probolinggo. Dengan dikomandani oleh Kang Oesman, mereka mulai melacak rumah Hariyanto. Mobil yang mereka kendarai sempat berputar-putar. Tanya sana-sini hingga berjumpa dengan jalan dengan nama buah-buahan. Ada jalan manggis, duku, dan beberapa lagi. Mereka masuk di wilayah dusun Gerdo kelurahan Pakistaji kecamatan Wonoasih, Probolinggo.


Berdasarkan informasi yang diperoleh Tim KOber, setelah berputar-putar cukup lama, keberadaan pelaku dapat dideteksi. Saat Tim KOber menemukan pelaku, dia sedang cuci motor disamping rumahnya. Tim KOber semakin yakin sebab plat nomor motor sama persis dengan yang ia unggah di Facebook.


Disaksikan perangkat desa setempat dan orang tuanya, pelaku mendapatkan pertanyaan-pertanyaan maupun pernyataan-pernyataan pedas dari Tim KOber. Tampak Raden Wawan dan Rahmad Bayu Prasetyo menanyai Hariyanto sambil menunjukkan bukti-bukti screencapture postingan pelaku. Hariyanto tidak bisa mengelak. Dengan wajah pucat dan selalu menunduk, ia tak bisa berkata apa-apa. Pada akhirnya Hariyanto menyatakan penyesalannya.


Di atas adalah lembar permintaan maaf Hariyanto kepada publik Jember. Tertanggal 26 Maret 2015, disaksikan oleh orang tua Hariyanto dan perangkat desa setempat

Permohonan maaf secara tertulis tersebut sudah dianggap cukup oleh warga Jember, diwakili Tim KOber. "Sesama muslim bersaudara, kita harus saling memaafkan," ujar Kang Oesman di sebuah komentar di Facebook. Ini juga menandakan jika laporan di Mapolres tidak lagi dilanjutkan, sebab jalur penyelesaian secara kekeluargaan telah ditempuh dan menghasilkan kesepakatan damai. Harapan berikutnya, semoga masalah ini tidak lagi membola salju, khususnya di group Komunitas Orang Jember.

Teman-teman, mari berhati-hati dalam menulis dan menyampaikan gagasan di dunia maya. Tidak semua pihak bisa berhati luas seperti Tim KOber. Lihat, di luar sana ada banyak sekali 'korban' dari membabi-butanya UU ITE, terlebih tentang pencemaran nama baik.

*Foto dari Group Facebook Dari Jember Oleh Jember Untuk Jember

Salam Kari Kecingkul!

Sabtu, 21 Maret 2015

Kamp Pengasingan di Kotok

Sabtu, 21 Maret 2015
Oleh RZ Hakim

Diceritakan oleh Mas Achmad Rizal dalam catatannya yang berjudul; Kamp Interniran di Jember, di daerah Kotok juga terdapat kamp interniran. Ia merupakan sebuah tempat pengasingan bagi tawanan perang di masa pendudukan Jepang. Kotok sendiri masuk desa Gumuksari kecamatan Kalisat, Jember.

Teman-teman dari Kari Kecingkul --atas bantuan seorang warga Sumberjeruk bernama Har, pernah beberapa kali melacak jejak interneeringen ini namun belum membuahkan hasil.

Mengapa Harus Ada Kamp Tawanan Perang

Catatan di bawah ini banyak saya sarikan dari karya Anna Mariana yang berjudul; Perbudakan Seksual, Perbandingan Antara Masa Fasisme Jepang dan Neofasisme Orde Baru. Kebetulan pada 5 Maret 2015 yang lalu saya turut menghadiri peluncuran dan diskusi buku itu. Bertempat di Hall Gedung Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri, UGM.

Jadi, mengapa harus ada kamp tawanan perang?

Ketika Jerman berhasil menembus Rusia, langkah pertama yang mereka bangun adalah kamp interniran. Itu juga terjadi di atas tanah air kita, ketika sekutu keok dalam Perang Asia Pasifik di Perang Dunia II. Kondisi itu mengantarkan Hindia Belanda jatuh ke tangan balatentara Jepang. Seirama dengan langkah Jerman ketika merangsek Rusia, Jepang juga segera membuat kamp interniran.

Kamp interniran dibutuhkan untuk mengisolasi pergerakan kaum terjajah.

Interniran di masa Jepang berbentuk kamp-kamp yang dikelola dengan sangat rapi, tersembunyi, serta selektif dalam 'mengambil' orang-orang yang akan diinternir. Dalam pengelompokannya juga selektif. Para tahanan kebanyakan dari golongan intelektual. Yang diseser pertama kali adalah warga Eropa maupun warga keturunan Indo. Golongan yang paling merasakan dampak interniran ini tentu mereka dari etnis Tionghoa. Ini juga karena dampak perang, hubungan dua negara saat itu yang sama sekali tidak harmonis.

Menurut catatan Nio Joe Lan, seorang wartawan Tionghoa, penangkapan terhadap etnis Tionghoa, yang kebanyakan merupakan kelas menengah dan kaum intelektual, berlangsung tidak lebih dari enam minggu setelah Jepang berkuasa.


Foto di atas adalah dokumentasi milik KITLV Leiden. Semoga bisa membantu mengimajinasikan bagaimana seorang tawanan hidup terisolasi, terenggut dari kehidupan nyaman sebelumnya.

Berikut adalah kesaksian dari Anne-Ruth Wertheim. Pada saat tinggal di Kamp Pengasingan, ia baru berumur delapan tahun, dan hidup di sana hingga berumur sepuluh tahun.

"Kamp dikelilingi pagar kawat berduri lapis dua yang tinggi serta dinding bambu, hingga kita tidak bisa melihat keluar. Di sudut-sudut kamp ada menara tinggi, terbuat dari bambu, yang selalu dikawal para penjaga. Mereka bersenjata senapan mesin, yang mengawasi kita sepanjang hari dan malam. Berjaga-jaga jika ada yang mau melarikan diri. Tapi aku tidak akan pernah mimpi melarikan diri. Apa yang akan kulakukan tanpa mama, kakak dan adikku?"

Anne-Ruth Wertheim, Angsa Merampas Roti Bebek-bebek: Masa Kanak-kanakku di Kamp Tahanan Jepang di Jawa (Yogyakarta: Galang Press, 2008) hlm. 12.

Kaum kulit putih adalah golongan terbesar yang ditempatkan di pengasingan. Para penghuni interniran itu dibagi menjadi dua kelompok besar. Kelompok pertama berisi laki-laki, khususnya yang telah berumur 12 tahun ke atas, sedangkan kelompok kedua adalah para perempuan dan anak-anak di bawah 12 tahun. Pertimbangannya adalah agar tidak ada kelahiran bayi selama di pengasingan.

Mengapa Kamp Interniran Ditempatkan di Kotok?

Untuk menghindari pandangan masyarakat umum, biasanya kamp-kamp memang sengaja dibangun agak sedikit jauh dari pusat kota atau di lokasi tersembunyi. Kiranya Kotok dianggap cocok dijadikan tempat pengasingan. Ingatan seorang interniran tentang gambaran letak kamp dapat kita simak sebagai berikut:

"Kamp itu terletak di daerah pinggiran kota, ditutupi gedek dengan pagar kawat berduri. Kami menempati rumah-rumah biasa meskipun penuh sesak, sehingga kami harus melangkahi orang-orang kalau keluar masuk; rumah-rumah itu terletak di sebuah jalan yang kedua susunnya disusuri pohon-pohon."

Paula Gomes, Sudah, Biar Saja... (Jakarta: Djambatan, 1993), hlm. 45.

Jika menengok dari catatan Achmad Rizal, Kamp di Kotok beroperasi dari April 1946 hingga Mei 1947. Penghuninya adalah wanita dan anak-anak pidahan dari Kamp Bataan, sekitar 15 Km Timur Laut Jember. Berikut adalah keterangan dari Achmad Rizal tentang Kamp Bataan.

Kamp Bataan, Desember 1945-Desember 1946

Awalnya ditempati oleh tawanan pindahan dari Sekolah Suster di Jember, tempatnya di bangunan milik Djelboek Tobacco Company. Bangunannya sebagian berupa gedek. Pada bulan Mei 1946, para wanita dan anak-anak ini dipindahkan ke Kamp Kotok.

Dari Mei 1946, kamp Bataan digunakan sebagai kamp untuk pria dan anak laki-laki yang lebih tua. Para penghuni kebanyakan tidur di tanah karena terbatasnya tempat tidur untuk menampung 302 penghuninya. Dapur umum tersedia dengan jatah terbatas untuk tiap orang. Toilet juga terbatas sehingga penghuninya menggunakan sungai di dekat kamp. Tidak ada dokter tetapi tersedia obat dan ada seorang tawanan yang perawat. Pada September 1946, terdapat kunjungan dari Palang Merah dan sebagian penghuni dievakuasi ke Semarang. Selanjutnya secara bertahap penghuninya dievakuasi sampai akhirnya ditutup pada Desember 1946.

Tercatat 1 orang penghuninya meninggal. Kamp ini dipimpin oleh J.D Belle.

Kamp Pengasingan di Kotok Adalah IANJO

Kembali ke kamp pengasingan yang ada di Kotok. Telah dijelaskan oleh Achmad Rizal bahwa penghuni kamp Kotok adalah wanita dan anak-anak. Oleh Jepang, kamp untuk perempuan dan anak-anak diberi label ianjo. Di sini tentu terjadi segala hal yang bernama pelecehan dan perbudakan seksual, seperti yang dipaparkan oleh Anna Mariana dalam bukunya. Perempuan-perempuan yang direkrut menjadi budak seksual tentara Jepang dinamakan jugun ianfu.

Para perempuan yang dijadikan jugun ianfu tak hanya kaum bumiputera. Eksploitasi seksual menimpa semua golongan, tidak terkecuali para perempuan kulit putih. Rekruitmen yang dilakukan terhadap perempuan kulit putih hampir sama dengan rekruitmen terhadap perempuan bumiputera. Modusnya bermacam-macam, salah satunya adalah dengan diiming-imingi pekerjaan yang lebih baik. Tidak ada yang mengira bahwa para perempuan itu akan ditempatkan di dalam kamp khusus yang sebenarnya berfungsi sebagai rumah bordil.

Berikut adalah kesaksian Elien Utrecht yang melihat bagaimana para perempuan itu dimobilisasi:

"Berikutnya barisan panjang gadis dan perempuan muda berdesak-desakan di sepanjang meja pendaftaran di kantor kamp. Beberapa orang Jepang duduk di dekat tempat itu dengan pandangan menguji. Mengerikan (....) Beberapa gadis dan perempuan mengenakan rok yang baik dan memakai dandanan rambut yang rapih. Mereka percaya cerita tentang pekerjaan kantor itu. Mereka dan Ibu mereka, jika ada yang menyertainya di kamp itu, ingin sekali mendapat kehidupan yang lebih baik di luar kamp. Sekitar dua belas atau barangkali sepuluh atau dua puluh dipilih, dan beberapa hari kemudian mereka meninggalkan kamp. Tanpa Ibu-ibu yang berkepentingan. Menyongsong masa depan yang tak diketahui."

Elien Utrecht, Melintasi Dua Jaman: Kenangan tentang Indonesia Sebelum dan Sesudah Kemerdekaan (Jakarta: Komunitas Bambu, 2006) hlm. 69-70.

Menurut Joost Cote dalam Recalling the Indies, dampak dari dipisahkannya kamp laki-laki dan perempuan untuk menghindari lahirnya bayi, terjadilah hubungan homoseksual dan lesbian di kamp-kamp. Bahkan hubungan seksual antara penjaga kamp Jepang dan tahanan perempuan pun terjadi.

Ketika September 1945, setelah Jepang bertekuk lutut, tentara sekutu menemukan 1.900 tawanan Belanda di Jakarta dalam keadaan menyedihkan.



Itulah yang terjadi. Ketika Jepang menginjakkan kekuasaannya di sini, warga Belanda dan sebagian Tionghoa menjumpai hari-hari yang tak sama lagi. Pada bulan-bulan awal, mereka mendapatkan makanan yang cukup. Terbilang mewah untuk seorang tawanan. Namun menjelang kekalahan Jepang, mereka dipindah ke Serang dan Cimahi.

Kala itu, kota Serang dijadikan penampungan untuk menyatukan tahanan Tionghoa dari seluruh Jawa dan Madura. Diperkirakan saat itu 500 orang Tionghoa dari Pulau Jawa dan 6 orang dari Pulau Madura dikumpulkan di tempat itu.

Bahkan untuk mandi pun mereka kesulitan. Dari catatan Rita la Fontaine de Clercq Zubli berjudul Disguised, ada disinggung pula masalah mandi ini.

Para perempuan menggunakan kain sarung untuk mandi di sumur. Satu tangan memegangi sarung, sementara tangan lainnya mengguyur air dengan gayung. Ketika menyabuni badan, tepian sarung digigit, sementara dua tangan bekerja di dalam sarung.

Catatan Rita itu terbit pertama kali di London pada 2007. Rita merupakan gadis Indo-Belanda. Kala menjadi tawanan Jepang, dia baru berusia 12 tahun.

Teman-teman di Jember memang belum berhasil merangkai kisah original tentang keberadaan Kamp Interniran di Kotok, di masa yang lalu. Namun kiranya masih ada harapan untuk menelisik kisah itu, sebab menurut beberapa catatan, meskipun biasanya kamp-kamp tersebut sengaja dibangun agak sedikit jauh dari pusat kota atau di lokasi tersembunyi, terkadang hal itu tak luput diketahui oleh warga sekitar. Namun tentu saja kita berlomba dengan waktu. Saksi mata --warga sekitar-- yang saat itu berusia 10 tahun kini telah berusia lanjut. Jika pun telah menjumpai saksi mata, kita masih berhadapan dengan daya ingat seseorang, serta hal-hal lainnya.

Jika ada data segar mengenai ini, tentu akan lahir artikel selanjutnya. Semoga.

Catatan

1. Komandan Kamp saat itu --April 1946 hingga Mei 1947-- bernama Moh. Rais. Ia adalah Wedono dari Kalisat.

2. Kepemimpinan Kamp di bawah pengawasan Nyonya M.H. Edie-Horsting.

Senin, 16 Maret 2015

Kari Kecingkul di Radar Jember

Senin, 16 Maret 2015
Faustinus Guido Saphan, Jember


Jawa Pos Radar Jember Edisi 16 Maret 2015

Kari Kecingkul, Kalisat; Pemburu Sejarah Lokal Jember Utara dan Timur

BERHASIL TEMUKAN KISAH TOKOH YANG MBABAT DESA

Tidak banyak kumpulan anak muda Jember di kecamatan pinggiran yang fokus menelusuri budaya dan sejarah daerah sendiri. Di antara yang sedikit itu, komunitas Kari Kecingkul Kalisat, bisa menjadi contoh kepedulian anak muda pada sejarah dan budaya lokal, khususnya di kawasan Jember bagian Utara dan Timur.

Nama komunitas Kari Kecingkul Kalisat sebenarnya muncul begitu saja di rumah Ivan Arifianto, pemuda asal desa Ajung, Kalisat, pada 3 Juni 2014. Saat itu, sejumlah pemuda yang memiliki aktifitas beragam, mulai pencinta alam, PNS, pegawai negeri maupun swasta, mahasiswa, dan pelajar berkumpul membicarakan banyak hal dengan hidangan kopi dan gorengan.

Para pemuda sebelumnya sudah biasa berkumpul. Tidak hanya di rumah, tapi juga sering kumpul sambil minum kopi di warung. Setiap berkumpul, mereka selalu mendengar banyak cerita tentang budaya dan sejarah asal-usul daerah, termasuk pahlawan lokal atau orang yang terkait dengan budaya dan sejarah itu.

Dari situlah, kumpulan pemuda yang digawangi Taufik Dwi Septiarso dan Ivan Arifianto semakin tertarik mempelajari budaya dan sejarah lokal di wilayah Jember bagian Utara dan Timur. Setiap berkumpul, mereka selalu membicarakan soal budaya dan sejarah lokal di Jember Utara dan Timur.

"Saat kumpul malam hari di rumah saya pada 3 Juni 2014 itu, saya muncul ide nama Kari Kecingkul sebagai nama komunitas ini. Nama itu perpaduan bahasa Madura dan Using, yang artinya bukan kena sikut, tapi belajar bersama menelusuri budaya dan sejarah daerah dan rakyat di Jember dan Timur serta Jember umumnya," kata Opick, panggilan akrab Taufik Dwi Septiarso.

Sejak punya identitas diri bernama komunitas Kari Kecingkul, Opick, Ivan, dan Hadi, serta sejumlah pemuda Kalisat lainnya sering blusukan ke tempat-tempat bersejarah di desa-desa yang tersebar di wilayah Utara dan Timur, seperti Kalisat, Sukowono, Jelbuk, dan Sumberjambe. Dalam menjalankan aktifitasnya, mereka juga mengajak teman-temannya yang sebagian besar kalangan pemuda yang punya tujuan sama.

Setiap beraktifitas, komunitas Kari Kecingkul berjalan ramai-ramai seperti halnya kelompok pencinta alam. Mereka blusukan ke desa-desa terpencil mencari dan mengungkap budaya dan sejarah masa lalu yang berkaitan dengan desa itu. Baik itu kisah kepahlawanan, tempat bersejarah, maupun budaya adat istiadatnya. "Misalnya mengungkapkan kisah masa lalu suatu desa, mengenang tempat bersejarah seperti stasiun kereta api Sukowono, Ajung, dan Sukosari yang sekarang tinggal kenangan. Atau cerita rakyat terkait dengan desa dan kisah kepahlawanan melawan penjajah," kata Opick.

Dari blusukan yang dilakukan sekali dalam sebulan itu, komunitas Kari Kecingkul mampu mengungkap banyak kisah masa lalu terkait adanya sebuah desa, tempat-tempat bersejarah yang layak menjadi cagar budaya, tugu-tugu kepahlawanan, dan sosok pahlawan kemerdekaan yang berjasa besar pada bangsa Indonesia, tapi namanya belum dikenal warga Jember. "Seperti Mbah Genduk yang konon mbabat Kalisat; Pak Boerah, pahlawan kemerdekaan anak buah Letkol. Moch. Sroedji yang selama ini belum dikenal warga Jember. Padahal beliau mati dibakar penjajah Belanda di Kalisat," paparnya.

Selain itu, komunitas ini juga menemukan kisah orang yang mbabat desa Sumberjeruk, Ajung, dan Plalangan, Kalisat. "Serta sejumlah bangunan bersejarah, seperti sejumlah stasiun kereta api di Jember Utara dan Timur yang kondisinya sekarang sudah rusak," tambah Ivan Bajil, panggilan akrab Ivan Arifianto.

Dalam menelusuri budaya dan sejarah lokal itu, komunitas Kari Kecingkul juga melibatkan para pegiat budaya dan sejarah lokal Jember, seperti RZ Hakim. "Mas Bro-panggilan akrab RZ Hakim, ini sangat peduli dengan budaya dan sejarah di Jember. Makanya, kami melibatkan dia, terutama dalam mempublikasikan budaya dan sejarah lokal Jember Utara dan Timur yang kita telusuri," kata Ivan.

Publikasi yang dilakukan komunitas Kari Kecingkul bukan melaui media mainstream. Melainkan, mereka menceritakan semua kisah yang mereka temukan melalui media sosial atau blog lengkap dengan fotonya. "Dengan menyebarkanluaskan melalui media sosial dan blog, selama ini banyak tanggapan positif dari masyarakat. Bahkan, anak dari Letkol Moch. Sroedji memberi sumbangan uang kepada kami untuk mengecat tugu pahlawan Pak Boerah di Kalisat," ujar Ivan.

Selain blusukan, komunitas Kari Kecingkul juga aktif menggelar kegiatan diskusi tentang budaya dan sejarah serta napak tilas Letkol Moch. Sroedji. "Semua kegiatan itu kami lakukan di Ajung, Kalisat. Bahkan, akhir 2014, Kari Kecingkul mendapat kehormatan menggelar teatrikal kisah kepahlawanan letkol Moch. Sroedji di sebuah lapangan di Ajung yang dihadiri langsung dua anak dan cucu Letkol Moch. Sroedji," kata Ivan. (cl/har)
Sudut Kalisat © 2014