Kamis, 05 Juni 2014

Gardu yang Hilang, Gumuk Cina dan Pak Boerah

Kamis, 05 Juni 2014

Tadi sore, kawan-kawan mengajak saya cangkruk'an di rel belakang Perumahan Ajung, Kalisat. Dulu di sini dikenal dengan nama Gardu, tempat pertemuan antara rel yang menuju Jalur Kalisat - Banyuwangi dengan jalur Kalisat - Panarukan. Kini yang beroperasi hanya satu, Jalur Jember - Kalisat - Banyuwangi. Sedangkan jalur satunya lagi mangkrak.

"Jadi Mas, di sini letak gardunya, di titik S 35. Ada penjaga yang bertugas untuk memindah jalur, mengikuti kode sinyal. Bukan sinyal hape lho, tapi sinyal kereta api."

Kini gardu yang dimaksud sudah tidak ada lagi. Di atas tanahnya ditumbuhi ilalang dan pohon pisang. Kita hanya bisa melihat ujung rel untuk tujuan Panarukan. Jika jalur ini dibuka kembali, tentu areal ini butuh diperhatikan secara serius.


Di sinilah tempat pertemuan antara rel yang menuju Jalur Kalisat - Banyuwangi dengan jalur Kalisat - Panarukan. Dokumentasi oleh Ivan Bajil, 5 Juni 2014.

Saya suka berlama-lama di tempat ini. Sejauh mata memandang, ada terlihat gumuk-gumuk, dua diantaranya digunakan sebagai makam untuk overseas Chinese. Orang Kalisat akrab menyebutnya Guchi.

"Di sini, Yok yang paling terkenal namanya Yok Panggung. Tokonya di Pasar Sore, arah menuju Stasiun Kalisat. Arsitekturnya dipertahankan hingga sekarang, banyak unsur kayu jatinya. Dulu mereka dikenal gara-gara jualan Cao dan Tao Co."

Yok adalah sebutan warga untuk sedulur Cina yang berdagang. Bukan hanya Yok Panggung saja yang mereka kenal. Masih ada Yok Kepak, Yok Gembreng, Yok Coni, dan masih banyak lagi.

Sepulang dari jalan-jalan, saya singgah di rumah Ibu Sulasmini. Ia tampak senang.

"Jangan keburu pulang ya Nak, Ibu bikin cakalan dengan bumbu Papua."

"Lho, Ibu juga pernah tinggal di Papua juga?"

"Iya Nak, kan sudah cerita kalau hidup Ibu dan Pak Oesman berpindah-pindah. Setidaknya setiap enam bulan."

Lalu kami makan bersama-sama. Setelahnya, kami berbincang-bincang. Entah bagaimana awalnya, Bu Sulasmini tiba-tiba menyebut nama Boerah.

"Di sini ini, kalau nggak ada pak Boerah, habis! Akan ada banyak orang yang diangkut di zaman 45 sampai Belanda datang lagi."

Kata Bu Sulasmini, nama Pak Boerah harum di Kalisat. Selain di Ajung, ia paling sering berada di Sukogidrih, Sumber Anget dan Karang Paiton. Itu tempat-tempat yang diincar Belanda.

"Hasil panen tembakau dan padi, kalau dari Sukogidrih, Sumber Anget dan Karang Paiton, harganya lebih mahal. Rasanya berbeda. Orang-orang Londo mengerti betul tentang ini. Entah karena faktor apa, mungkin unsur tanahnya, atau lantaran anginnya yang ideal."

Saya mengangguk mendengar kata Ivan, anak bungsu Bu Sulasmini. Saya kira, itu disebabkan oleh faktor banyaknya gumuk.

Saya bertanya, "Bukankah katanya Pak Boerah orang Karangkedawung?"

Bu Sulasmini tersenyum. Dia bilang, jarak antara Kalisat - Mayang - Karangkedawung tidaklah jauh. Ketika masih muda, ia sering jalan kaki ke sana, apalagi jika musim pasaran. Bu Sulasmini menutup kisahnya dengan pertanyaan, "Kenapa sekarang terasa jauh ya Nak?"

Beberapa saat sebelum pulang, Ivan mengingatkan saya untuk membawa memori kameranya. Dia ingin foto-foto rumah tua di depan Stasiun Kalisat dikirimkan ke Marjolein. Tadi sebelum ke Gardu Rel, kami memang lama sekali mengubek-ubek dua rumah tua tak berpenghuni yang menyimpan kisah penyiksaan pejuang.


Salah satu sudut rumah tua di seberang Stasiun Kalisat

Jalan-jalan sambil belajar sejarah memang menyenangkan. Ia memberi kita inspirasi, pelajaran, dan memberikan kesadaran waktu. Kita akan dibuat mengerti tentang adanya gerak sejarah. Kesadaran itu membuat kita bisa memandang peristiwa-peristiwa sejarah sebagai sesuatu yang terus bergerak dari masa silam, bermuara ke masa kini, dan berlanjut ke masa depan.

Dengan sejarah, kita bisa meraba-raba apa yang tersembunyi dan yang disembunyikan.

Sebagai penutup catatan, saya ucapkan selamat Hari Lingkungan Hidup Sedunia.

Salam Lestari!

Rabu, 04 Juni 2014

Kisah Ibu Sulasmini

Rabu, 04 Juni 2014

Ibu Sulasmini - Dokumentasi Kari Kecingkul

Nama saya Sulasmini, kelahiran tahun 1938. Orang-orang Kalisat yang mengenal saya, mereka biasa memanggil Bu Oesman. Itu nama suami saya, Bapaknya Ivan. Kami menikah tahun 1951. Saat itu saya belum 16 tahun, jadi tanggal lahir saya di surat nikah dirubah, biar bisa kawin.

Saya dan Bapak Oesman, kami dianugerahi sembilan buah hati, Ivan itu anak ragil. Cicit saya 13, sedangkan cucu? Saya lupa, mungkin 26. Lebih mudah menghitung cicit daripada cucu.

Setelah menikah, kami sering berpindah-pindah tempat. Maklum, saya istri seorang tentara. Satu tahun setelah menikah saja, kami sudah tinggal di Flores dan tetap berpindah-pindah. Enam bulan di Ende, lalu Maumere, lalu Larantuka. Kadang terasa capek. Syukurlah, untuk masalah makan apa kata bagian dapur.

Harta kekayaan kami hanya kasur, seprai, dan hal-hal sederhana lainnya.

Di Flores tidak ada cakalan seperti yang saya rindukan. Padahal ikan laut di sini besar-besar. Kalau mereka membuat cakalan hanya sekedar dibakar dengan bumbu sederhana. Suatu hari saya bikin cakalan yang racikannya seperti di Kalisat. Banyak yang suka. Barangkali mereka masih melestarikan racikan itu hingga sekarang.

Saya kerasan tinggal di Flores, terutama di Larantuka. Orangnya ramah-ramah, lingkungan alamnya cantik.

Menjadi SUKWATI alias SUKARELAWATI

Pertengahan tahun 1960an, ketika itu suami saya sudah dinas di Sukorejo. Kalau tidak salah ingat, saat itu pangkatnya sersan mayor. Ketika itu kami dikumpulkan, 60 perempuan. Kami mewakili Brimob, Kepolisian, CPM, 509, Batalyon Tanggul, dan satu lagi saya lupa.

Kami dilatih selama 6 bulan lamanya untuk menjadi Sukwati.

Saya paling tidak suka dengan latihan baris berbaris. Latihannya sejak pukul sebelas siang hingga pukul satu. Sayangnya, itu adalah latihan wajib, setiap hari. Kalau latihan meriam, hari senin dan sabtu di Mumbulsari. Latihan tembak biasanya juga di Mumbulsari. Saya diharuskan bisa mengoperasikan berbagai senjata. Mulanya bingung, tapi lama-lama saya menjadi sehati dengan Pistol, Jeren, LA, Cong dan Sten.

Cong itu jenis senjata yang pelurunya ada di luar. Ketika tiarap sambil memegang Cong, kaki harus dibuka. Ini senjata favorit saya.

Setengah tahun yang berat. Pagi-pagi pukul setengah lima saya berangkat dari Kalisat ke Jember, pulangnya jam lima sore.

Suka duka selama latihan? Hmmm, apa ya?

Saya ingat. Yang paling sering ditempak oleh pelatih adalah istri-istrinya Polisi. Waktu itu, rata-rata dari mereka manja sekali. Istrinya Armed juga begitu.

Hal paling buruk dari SUKWATI yang saya ingat hanya satu. Kami para lulusan Sukwati belum sempat mendapat ijasah. Kondisi politik negeri ini lagi gonjang-ganjing oleh komunisme. Kalisat ada banyak Gerwani. Serem.

Waktu ada Agresi Militer, saya masih belum menikah dengan Bapak Oesman K. Setelah menikah, dia kadang bercerita tentang itu. Suami saya anak buah Pak Magenda. Ketika mendengar kabar duka, Bapak susah makan berhari-hari, dia sedih.

Apakah saya dendam pada Belanda? Tidak. Ketika Indonesia sudah merdeka, orang-orang Belanda masih banyak sekali di Flores hingga tahun 1950an. Kami bisa hidup berdampingan karena memang setara.

Lagipula, Bapak dari Bapak saya adalah orang Belanda, akrab dipanggil Sinyo Yan. Bapak saya sendiri asli Solo, namanya Surodo Sumodiharjo. Ia menikahi perempuan Kalisat bernama Painem. Itu nama Ibu saya.

Semoga tidak ada lagi penjajahan ya Nak.

*Hasil wawancara RZ Hakim, 3 Juni 2014.

Sabtu, 31 Mei 2014

Sanatorium Kalisat alias Marsakek Rosak

Sabtu, 31 Mei 2014
Oleh RZ Hakim

Jika melihat catatan-catatan di masa kependudukan, dikatakan bahwa dulu di Kalisat pernah ada sebuah Sanatorium. Ia adalah sebentuk fasilitas medis yang dirancang khusus untuk menyembuhkan penderita tuberkulosis. Di dunia medis, sanatorium telah diperkenalkan pada tahun 1849 oleh seorang dokter asal Jerman.

Ketika bertanya pada beberapa orang di Kalisat tentang keberadaan sanatorium, biasanya mereka merujuk pada RSUD yang ada di Jalan M.H.Thamrin No.31 Kalisat, sebuah rumah sakit negeri kelas D. Rumah sakit ini bersifat transisi dengan kemampuan hanya memberikan pelayanan kedokteran umum dan gigi. Ia juga menampung rujukan yang berasal dari puskesmas.

Titik terang mulai ada ketika saya berjumpa dengan Mas Opik Badut di kediaman Ibu Sulasmini. Menurutnya, mungkin yang dimaksud sanatorium adalah marsakek rosak, bahasa lokal yang artinya, rumah sakit rusak. Bermodal informasi itu, tadi sore saya dan teman-teman Kari Kecingkul bergerak menuju ke lokasi.


Reruntuhan Sanatorium di dusun Jambuan desa Plalangan kecamatan Kalisat. Dokumentasi oleh Ivan, 31 Mei 2014.

Sanatorium di Kalisat memang hanya tinggal cerita. Kini hamparan lahan bekas sanatorium dimanfaatkan untuk lahan tebu. Kami beruntung masih bisa menemukan sisa-sisa pondasi sanatorium, diantara semak belukar.

Tak jauh dari reruntuhan sanatorium terdapat sebuah gedung sekolah, SDN Plalangan III kecamatan Kalisat. Kata Anief, dulu dia sekolah di sana.

Ketika saya hendak mendokumentasikan ini, tiba-tiba teringat dengan kliping online tentang sanatorium. Saya mendapatkannya dari harian Tjahaja edisi 25 September 1942. Akan saya catat kembali di sini, semoga bermanfaat.

SANATORIUM DI KALISAT

Tiga kilometer dari Kalisat (Djember) di desa Plalangan terdapat seboeah "Sanatorium." Dalam Sanatorium ini sekarang dirawat 35 orang sakit.

Sanatorium ini ada di bawah tilikan dr. Ateng dari Djember. Ada 27 Gedoeng dan 1 rumah di atas poentjak disediakan oentoek keperloean orang sakit.

Pegawai sanatorium itoe ada k. 1. 40 orang, diantaranja terdiri dari 4 djoeroerawat dan 8 tjalon-djoeroe-rawat.

Di Sanatorium ini dapat dirawat 100 orang banjaknja. Pembajaran ditetapkan seharinya 50 sen paling sedikit dan setinggi-tingginja f 3,-

Oentoek mereka jang miskin diadakan peratoeran jang ringan, hingga dapat djoega mereka dibebaskan dari pembajaran asalkan tjoekoep boektinja bahwa sesoenggoehnja dia itoe miskin. (Domel).

Jika menengok sejarah Rumah Sakit Paru Jember, maka masih berhubungan dengan Sanatorium di Kalisat.

Rumah Sakit Paru Jember didirikan pada zaman Hindia Belanda merupakan Sanatorium milik Yayasan Stichting Centraal Vereneging Tuberculosa Besttriding (SCVT) yang terletek di Desa Plalangan, Kecamatan Kalisat. Rumah Sakit mengalami kerusakan berat akibat perang, kemudian dibangun kembali diluar Kota Jember --Lokasi RSUD Dr. Soebandi sekarang-- ditambah unit rawat jalan di Stasiun Kota Jember.

SCVT sendiri baru didirikan pada 1930 sebagai upaya pemberantasan penyakit tuberkulosis. Ketua SCVT pertama adalah Mvr. de Jonge, istri dari Mr. Bonifacius Cornelis de Jonge, Gubernur Batavia 1931-1936. Kelak SCVT berganti nama menjadi YP3I, Yayasan Pemberantasan Penyakit Paru-Paru di Indonesia.


Ada satu rumah di atas poentjak disediakan oentoek keperloean orang sakit. Cuplikan dari koran Tjahaja edisi 25 September 1942.

Rumah di atas puncak seperti yang digambarkan oleh catatan sejarah itu memang sudah tak ada lagi. Bagi saya, itu adalah sebentuk pengobatan tuberkulosis yang masuk akal. Jika kembali menengok sejarahnya, sanatorium diperkenalkan pada tahun 1849 oleh seorang dokter asal Jerman. Ia terinspirasi untuk menciptakan sanatorium setelah dia sembuh dari tuberkulosis, saat tinggal di Pegunungan Himalaya dan mengonsumsi makanan bergizi.

Di masa yang lalu, Kalisat khususnya dusun Jambuan desa Plalangan dianggap memenuhi syarat untuk didirikan sebuah gedung penyembuh dengan istilah medis sanatorium. Mungkin karena di sini ada banyak gumuk dan pepohonan sehingga udaranya bersih, masyarakatnya bertumbuh dengan sehat dan kuat.
Sudut Kalisat © 2014