Sabtu, 07 Juni 2014

Badut Sejati Dari Kalisat

Sabtu, 07 Juni 2014

Mas Opik - Dokumentasi Pribumi Advertising

Saya masih ingat ketika pertama kali berjumpa dengannya. Ia mengenakan hem warna cerah, bersarung, lengkap dengan songkok yang dipelorotkan ke dahi hingga mendekati tengah alis. Wajahnya tampak ceria, tak kentara jika enam tahun lagi usianya genap setengah abad.

Caranya bercerita terbilang cerdas, membuat ekspresi wajah pendengarnya berubah-ubah. Kadang serius, kadang tertawa ngakak. Dia memulai kisahnya saat bekerja sebagai sopir ambulance sejak pertengahan tahun 1990an. Lalu, pada kisaran 2007, ia menjabat sebagai carik atau sekretaris desa di desa Sukosari.

Saya terkesan ketika dia bertutur tentang penggalan pengalaman saat menjadi sopir ambulance.

"Paling apes itu kalau harus mengangkut jenasah orang yang meninggal dengan cara tidak normal. Kadang tubuhnya tidak bisa diluruskan. Saya masih harus menyiramnya dengan air panas."

Meski ceritanya sedikit seram, namun lelaki bernama lengkap Taufik Dwi Septiarso ini pandai sekali merangkainya dengan humor-humor segar.

Ada juga sih kisah sedihnya, ketika lelaki kelahiran 27 September 1970 ini harus pontang panting mencari duit untuk biaya pendidikan salah satu anaknya. Suatu hari buah hatinya meminta uang. Lalu ia bertanya, uang itu untuk digunakan kapan? Eh, ternyata hari terakhir pembayaran adalah esok harinya.

"Ya sudah, demi anak BPKB pun ikut sekolah!"

Melihat caranya mengisahkan pengalaman hidup, saya tersenyum, meski tetap menyisakan ruang empati.

"Pekerjaan yang paling banyak suka dukanya itu ya Badut. Saya bahagia menatap senyum bocah-bocah, kadang juga merasa kasihan ketika ada yang menangis histeris melihat tampilan saya. Ya, itu peran yang harus saya jalani. Menjadi badut adalah tentang membahagiakan orang lain, meski kadang kita sendiri sedang ada di suasana hati yang tak prima."

Keren!

Menjadi badut tak semudah yang saya kira. Jika kita jatuh, labu napang, anak-anak kecil bakal bersorak. Dikiranya itu bagian dari atraksi. Kita juga harus siap tampil meski hanya di depan seorang perempuan hamil yang sedang ngidam.

Berani menatap hidup, berani bermanfaat untuk orang lain. Setidaknya, itu falsafah yang saya dapatkan dari seorang lelaki beranak dua yang akrab dipanggil Mas Opik ini.

Mas Opik, ia menyegarkan kembali ingatan kita semua bahwa setiap orang adalah guru bagi kita dan setiap tempat adalah sekolah bagi kita.

Terima kasih inspirasinya, Mas. Salam Kari Kecingkul.

*Hasil obrolan awal Juni 2014

Kamis, 05 Juni 2014

Gardu yang Hilang, Gumuk Cina dan Pak Boerah

Kamis, 05 Juni 2014

Tadi sore, kawan-kawan mengajak saya cangkruk'an di rel belakang Perumahan Ajung, Kalisat. Dulu di sini dikenal dengan nama Gardu, tempat pertemuan antara rel yang menuju Jalur Kalisat - Banyuwangi dengan jalur Kalisat - Panarukan. Kini yang beroperasi hanya satu, Jalur Jember - Kalisat - Banyuwangi. Sedangkan jalur satunya lagi mangkrak.

"Jadi Mas, di sini letak gardunya, di titik S 35. Ada penjaga yang bertugas untuk memindah jalur, mengikuti kode sinyal. Bukan sinyal hape lho, tapi sinyal kereta api."

Kini gardu yang dimaksud sudah tidak ada lagi. Di atas tanahnya ditumbuhi ilalang dan pohon pisang. Kita hanya bisa melihat ujung rel untuk tujuan Panarukan. Jika jalur ini dibuka kembali, tentu areal ini butuh diperhatikan secara serius.


Di sinilah tempat pertemuan antara rel yang menuju Jalur Kalisat - Banyuwangi dengan jalur Kalisat - Panarukan. Dokumentasi oleh Ivan Bajil, 5 Juni 2014.

Saya suka berlama-lama di tempat ini. Sejauh mata memandang, ada terlihat gumuk-gumuk, dua diantaranya digunakan sebagai makam untuk overseas Chinese. Orang Kalisat akrab menyebutnya Guchi.

"Di sini, Yok yang paling terkenal namanya Yok Panggung. Tokonya di Pasar Sore, arah menuju Stasiun Kalisat. Arsitekturnya dipertahankan hingga sekarang, banyak unsur kayu jatinya. Dulu mereka dikenal gara-gara jualan Cao dan Tao Co."

Yok adalah sebutan warga untuk sedulur Cina yang berdagang. Bukan hanya Yok Panggung saja yang mereka kenal. Masih ada Yok Kepak, Yok Gembreng, Yok Coni, dan masih banyak lagi.

Sepulang dari jalan-jalan, saya singgah di rumah Ibu Sulasmini. Ia tampak senang.

"Jangan keburu pulang ya Nak, Ibu bikin cakalan dengan bumbu Papua."

"Lho, Ibu juga pernah tinggal di Papua juga?"

"Iya Nak, kan sudah cerita kalau hidup Ibu dan Pak Oesman berpindah-pindah. Setidaknya setiap enam bulan."

Lalu kami makan bersama-sama. Setelahnya, kami berbincang-bincang. Entah bagaimana awalnya, Bu Sulasmini tiba-tiba menyebut nama Boerah.

"Di sini ini, kalau nggak ada pak Boerah, habis! Akan ada banyak orang yang diangkut di zaman 45 sampai Belanda datang lagi."

Kata Bu Sulasmini, nama Pak Boerah harum di Kalisat. Selain di Ajung, ia paling sering berada di Sukogidrih, Sumber Anget dan Karang Paiton. Itu tempat-tempat yang diincar Belanda.

"Hasil panen tembakau dan padi, kalau dari Sukogidrih, Sumber Anget dan Karang Paiton, harganya lebih mahal. Rasanya berbeda. Orang-orang Londo mengerti betul tentang ini. Entah karena faktor apa, mungkin unsur tanahnya, atau lantaran anginnya yang ideal."

Saya mengangguk mendengar kata Ivan, anak bungsu Bu Sulasmini. Saya kira, itu disebabkan oleh faktor banyaknya gumuk.

Saya bertanya, "Bukankah katanya Pak Boerah orang Karangkedawung?"

Bu Sulasmini tersenyum. Dia bilang, jarak antara Kalisat - Mayang - Karangkedawung tidaklah jauh. Ketika masih muda, ia sering jalan kaki ke sana, apalagi jika musim pasaran. Bu Sulasmini menutup kisahnya dengan pertanyaan, "Kenapa sekarang terasa jauh ya Nak?"

Beberapa saat sebelum pulang, Ivan mengingatkan saya untuk membawa memori kameranya. Dia ingin foto-foto rumah tua di depan Stasiun Kalisat dikirimkan ke Marjolein. Tadi sebelum ke Gardu Rel, kami memang lama sekali mengubek-ubek dua rumah tua tak berpenghuni yang menyimpan kisah penyiksaan pejuang.


Salah satu sudut rumah tua di seberang Stasiun Kalisat

Jalan-jalan sambil belajar sejarah memang menyenangkan. Ia memberi kita inspirasi, pelajaran, dan memberikan kesadaran waktu. Kita akan dibuat mengerti tentang adanya gerak sejarah. Kesadaran itu membuat kita bisa memandang peristiwa-peristiwa sejarah sebagai sesuatu yang terus bergerak dari masa silam, bermuara ke masa kini, dan berlanjut ke masa depan.

Dengan sejarah, kita bisa meraba-raba apa yang tersembunyi dan yang disembunyikan.

Sebagai penutup catatan, saya ucapkan selamat Hari Lingkungan Hidup Sedunia.

Salam Lestari!

Rabu, 04 Juni 2014

Kisah Ibu Sulasmini

Rabu, 04 Juni 2014

Ibu Sulasmini - Dokumentasi Kari Kecingkul

Nama saya Sulasmini, kelahiran tahun 1938. Orang-orang Kalisat yang mengenal saya, mereka biasa memanggil Bu Oesman. Itu nama suami saya, Bapaknya Ivan. Kami menikah tahun 1951. Saat itu saya belum 16 tahun, jadi tanggal lahir saya di surat nikah dirubah, biar bisa kawin.

Saya dan Bapak Oesman, kami dianugerahi sembilan buah hati, Ivan itu anak ragil. Cicit saya 13, sedangkan cucu? Saya lupa, mungkin 26. Lebih mudah menghitung cicit daripada cucu.

Setelah menikah, kami sering berpindah-pindah tempat. Maklum, saya istri seorang tentara. Satu tahun setelah menikah saja, kami sudah tinggal di Flores dan tetap berpindah-pindah. Enam bulan di Ende, lalu Maumere, lalu Larantuka. Kadang terasa capek. Syukurlah, untuk masalah makan apa kata bagian dapur.

Harta kekayaan kami hanya kasur, seprai, dan hal-hal sederhana lainnya.

Di Flores tidak ada cakalan seperti yang saya rindukan. Padahal ikan laut di sini besar-besar. Kalau mereka membuat cakalan hanya sekedar dibakar dengan bumbu sederhana. Suatu hari saya bikin cakalan yang racikannya seperti di Kalisat. Banyak yang suka. Barangkali mereka masih melestarikan racikan itu hingga sekarang.

Saya kerasan tinggal di Flores, terutama di Larantuka. Orangnya ramah-ramah, lingkungan alamnya cantik.

Menjadi SUKWATI alias SUKARELAWATI

Pertengahan tahun 1960an, ketika itu suami saya sudah dinas di Sukorejo. Kalau tidak salah ingat, saat itu pangkatnya sersan mayor. Ketika itu kami dikumpulkan, 60 perempuan. Kami mewakili Brimob, Kepolisian, CPM, 509, Batalyon Tanggul, dan satu lagi saya lupa.

Kami dilatih selama 6 bulan lamanya untuk menjadi Sukwati.

Saya paling tidak suka dengan latihan baris berbaris. Latihannya sejak pukul sebelas siang hingga pukul satu. Sayangnya, itu adalah latihan wajib, setiap hari. Kalau latihan meriam, hari senin dan sabtu di Mumbulsari. Latihan tembak biasanya juga di Mumbulsari. Saya diharuskan bisa mengoperasikan berbagai senjata. Mulanya bingung, tapi lama-lama saya menjadi sehati dengan Pistol, Jeren, LA, Cong dan Sten.

Cong itu jenis senjata yang pelurunya ada di luar. Ketika tiarap sambil memegang Cong, kaki harus dibuka. Ini senjata favorit saya.

Setengah tahun yang berat. Pagi-pagi pukul setengah lima saya berangkat dari Kalisat ke Jember, pulangnya jam lima sore.

Suka duka selama latihan? Hmmm, apa ya?

Saya ingat. Yang paling sering ditempak oleh pelatih adalah istri-istrinya Polisi. Waktu itu, rata-rata dari mereka manja sekali. Istrinya Armed juga begitu.

Hal paling buruk dari SUKWATI yang saya ingat hanya satu. Kami para lulusan Sukwati belum sempat mendapat ijasah. Kondisi politik negeri ini lagi gonjang-ganjing oleh komunisme. Kalisat ada banyak Gerwani. Serem.

Waktu ada Agresi Militer, saya masih belum menikah dengan Bapak Oesman K. Setelah menikah, dia kadang bercerita tentang itu. Suami saya anak buah Pak Magenda. Ketika mendengar kabar duka, Bapak susah makan berhari-hari, dia sedih.

Apakah saya dendam pada Belanda? Tidak. Ketika Indonesia sudah merdeka, orang-orang Belanda masih banyak sekali di Flores hingga tahun 1950an. Kami bisa hidup berdampingan karena memang setara.

Lagipula, Bapak dari Bapak saya adalah orang Belanda, akrab dipanggil Sinyo Yan. Bapak saya sendiri asli Solo, namanya Surodo Sumodiharjo. Ia menikahi perempuan Kalisat bernama Painem. Itu nama Ibu saya.

Semoga tidak ada lagi penjajahan ya Nak.

*Hasil wawancara RZ Hakim, 3 Juni 2014.
Sudut Kalisat © 2014