Perhatikan dengan seksama foto di atas. Itu adalah bocah-bocah TK yang sedang mengikuti Kalisat Fashion Carnival (Kids) se-kecamatan Kalisat pada pertengahan bulan Agustus lalu. Mereka ingin sekali tampil berbusana Reog Ponorogo. Mengapa? Penyebabnya tidak lain, dalam JFC 2015 mereka menghadirkan beberapa defile, dua diantaranya adalah tentang kejayaan Majapahit dan Reog. Ini kabar baik bagi wali murid yang cinta budaya nusantara dan memiliki uang.
Perhatikan pula foto di bawah ini, ketika di Kalisat diselenggarakan Karnaval Tingkat Sekolah Dasar pada 1 September 2015
Karnaval Tingkat SD se-kecamatan Kalisat, 1 September 2015
Tampak dalam foto, Zidath mengenakan kostum Reog Ponorogo, di depan sendiri. Zidath adalah siswa kelas empat di SDN Ajung 01 Kalisat, kabupaten Jember. Sekali lagi, ini kabar baik bagi wali murid pencinta budaya nusantara dan bagi mereka yang memiliki uang. Tidak bisa dipungkiri, semua orang tua ingin putra-putrinya tampil keren di hadapan orang banyak, tak peduli berapa uang yang harus ia keluarkan.
Untuk foto yang ditampilkan di bawah ini adalah foto hasil jepretan hari ini, 3 September 2015, di mana di sini sedang diselenggarakan Karnaval Tingkat SMP/SMA se-kecamatan Kalisat.
Karnaval Tingkat SMP/SMA se-kecamatan Kalisat, 1 September 2015
Tampak dalam foto, Rina, siswi SMP Negeri 1 Kalisat sedang mengenakan kostum dominasi bulu merak imitasi, hasil desainer Ifan Arifianto dari IGA Production, Kalisat. Bulu-bulu merak tersebut dimanipulasi dengan menggunakan bahan kertas, untuk kemudian dijadikan sayap. Tapi perhatikan lagi foto di balik Rina, yang juga mengusung tema serupa namun ada terlihat bulu merak asli di sana.
Menurut Ifan, sekitar 3-4 tahun yang lalu, harga bulu merak asli untuk keperluan karnaval, per-helai dihargai 6000 rupiah. Kini tidak tahu berapa harganya. Bulu merak buatan harganya bisa tiga hingga empat kali lipat lebih mahal.
Ini tentu layak kita pikirkan bersama. Tak baik melayangkan kesalahan hanya kepada Presiden JFC Dynand Fariz.
Namanya Arik Cahyono namun biasa dipanggil Yoyon. Ia terlahir di Kalisat pada 29 Juni 1980. Istrinya bernama Dwi, mereka menikah pada tahun 2002 dan dikaruniai seorang putra, Irgi namanya. Dalam JFC tahun ini, Yoyon menjadi bagian dari Outframe JFC-14, Guard Jember Fashion Carnaval. Masa kontraknya 3 hari, terhitung sejak 28-30 Agustus 2015.
"Saya memang baru bergabung tahun ini di Guard JFC, masuk di kelompok Panser --Pasukan Supporter Jember, ada sekitar 160 orang. Selain Panser, untuk tahun ini ada juga kelompok-kelompok lain yang juga dikontrak sebagai Guard. Tugas kami adalah membantu kelancaran kegiatan; mulai dari kenyamanan talent hingga membantu mengingatkan penonton sekiranya berpotensi tidak tertib. Kami juga bertanggungjawab atas areal yang dilalui, agar tetap terjaga kebersihannya."
Menurut Yoyon, per-600 meter ada 160 Guard dari tim Panser. Dimulai dari titik Jembatan Jompo hingga di depan Bank Buana UOB. Masing-masing Guard berjarak 10 meter atau lima pagar --per satu pagar panjangnya 2 meter.
"Jadi, para Guard ini juga mengantongi tas kresek. Bila ada terlihat salah satu penonton membuang sampah sembarangan, jika itu ada di dekat kami, maka kami akan memungut sampah tersebut, menaruhnya dalam kantong, untuk kemudian memberi pengertian kepada orang yang dimaksud, dengan cara lembut dan sesopan yang kami bisa."
Guard sebaiknya tidak turut sibuk memotret talent, dan harus tetap menghadap ke penonton. Seperti Guard sepakbola di liga Inggris misalnya, seperti itulah posisi Yoyon dan kawan-kawan Guard lainnya.
Rangkaian acara JFC --Jember Fashion Carnaval-- usai sudah, ditutup dengan JFC Grand Carnival pada 30 Agustus 2015 lalu. Namun dibalik gegap gempita JFC ke-14 ini, ada sebuah peristiwa di dunia maya yang akan baik jika kita renungkan serta kita jadikan pelajaran. Dua hari sebelum acara puncak, ada saya baca di jejaring sosial Facebook milik Oryza Ardyansyah tentang permohonan maaf oleh Setiyo Hadi, dan itu ia lakukan secara berulang-ulang. Ada apa ini?
Inti masalah ada di sebuah gambar.
Setiyo Hadi merasa ia terlebih dahulu menerbitkan gambar tersebut. Gambar yang dimaksud, menampakkan sosok penonton yang terpaksa harus mengintip dicelah pagar hanya agar bisa menikmati tontonan JFC di kota kelahirannya sendiri. Kira-kira begitu pesan gambar yang saya tangkap. Ia berjudul; INIKAH JEMBER UNTUK DUNIA? WARGANYA HANYA KEBAGIAN NGINTIP SAJA. Judul tersebut diakhiri dengan tanda seru yang banyak sekali.
Kita hidup di sebuah negeri yang mengusung gagasan demokratis, tentu tidak ada masalah dengan pesan yang ingin disampaikan oleh seorang Setiyo Hadi. Namun ternyata masalahnya tidak di sana. Ini tentang gambar yang dijadikan ilustrasi oleh media beritajatim.com. Setiyo Hadi merasa keberatan lalu melayangkan keberatannya di jejaring sosial Facebook.
"Yang Terhormat beritajatim.com n Mr. Oryza Ardyansyah : Sayangnya dalam mengambil gambar yang ditampilkan di berijatim.com tidak ditampilkan sumber alias copy paste dari facebook orang lain (kalau dishare di facebook sich gak pa2 ..... namun kalau jadi pemberitaan media berita ya lain persoalannya) ........... colek Bunda Lian Pira .... gambar tersebut pertama kali diunggah sekit pukul 07.30 WIB tanggal 27Agustus 2015... sedangkan gambar tsb menjadi bagian berita dari beritajatim.com jam 21.30 tanggal 27 Agusustus 2015 .............. Ayo Lebih Dulu Mana?"
Ditampilkan di kolom komentar Facebook Oryza Ardyansyah pada 28 Agustus 2015 pukul 4:42, di 'update status' Oryza yang berjudul, GEMAS DENGAN JFC. Komentar tersebut kemudian disunting dan diberi tambahan gambar seperti di bawah ini.
Dari Facebook Setiyo Hadi di dinding Facebook Oryza Ardyansyah
Oleh Oryza, komentar tersebut dijawab begini;
".....Aku sudah kasih klarifikasi di salah satu posting protesmu, tapi malah postingmu kamu duplikasi... ngene ae wis, nek koen iso mbuktikan juga bahwa meme itu karyamu, aku akan kasih caption keterangan foto bahwa itu karya Setiyo Hadi... tapi juga sekalian buktikan bhw foto org ngintip itu juga fotomu dan kamu gk ambil foto org lain juga sbg bahan meme."
Tak lama kemudian Oryza mengunggah status baru --28 Agustus pukul 7:29-- seperti di bawah ini.
"Semula saya mengira yopi alias Setiyo Hadi hanya mempersoalkan meme jfc di akun dia dengan nge tag beberapa teman. Saya klarifikasi di fb juga yg ditag-kan ke saya. Ternyata dia juga mempersoalkan dan bahkan menghujat media saya tanpa memberi kesempatan saya mengklarifikasi di salah satu grup diskusi jember yg memiliki ribuan anggota.
Waktu unggah posting bersamaan dgn waktu unggah posting thread di fb akun dia, yakni 2 jam sebelumnya (saya baca posting comment itu pukul 06.50). Selama dua jam lebih hujatan itu tak terklarifikasi. Bahkan ada yg nge-like 2 orang. Jadi saktemene koen iki onok masalah opo karo aku yop? nek niat apik ngeritik dan koreksi kenapa gk ketemuan ae, dan bukannya nyebar hujatan kemudian macak bijak,... koen yo durung iso mbuktikan itu meme hasil karyamu tapi wis menghujat... terlebih ternyata unsur utama meme yaitu foto, yo bukan karyamu... opo koen jelaskan di meme itu kalau foto di situ itu karyamu...."
Benar, di sebuah group Facebook memang terdapat komentar dari Setiyo Hadi, ditulis dengan huruf kapital.
BERITA JATIM TERNYATA GAK KREATIF ALIAS PAKAI GAMBAR ORANG LAIN TANPA KONFIRMASI DULU UNTUK PEMBERITAAN!!!
Oryza tentu keberatan jika media tempat ia menulis --beritajatim.com-- turut disebut-sebut di dunia maya. Akan baik jika Setiyo Hadi melayangkan surat keberatan secara langsung pada media yang dimaksud.
Kabar baiknya, polemik hari itu diselesaikan juga di hari itu, 28 Agustus 2015. Pasalnya, Setiyo Hadi tidak bisa membuktikan jika gambar yang dimaksud adalah hasil karyanya sendiri. Ia ada dalam keterangan selanjutnya, yaitu di lembar Permohonan Maaf.
"Bahwa foto yang saya kutip dari Lian Pira ternyata merupakan kutipan dari Achmad Fawaid."
Untuk lebih jelasnya silahkan buka spoiler di bawah ini:
Permohonan Maaf dari Setiyo Hadi:
PERMOHONAM MAAF TERBUKA
- Hati-hati Bagi Pengunggah Status FB Dalam Berkomentar -
PERMOHONAN MAAF
Saya bertanda tangan di bawah ini :
Nama : Y. Setiyo Hadi alias Yopi
Mengakui adanya kesalahan dalam membuat status di akun Facebook atas nama Setiyo Hadi pada Hari Jum’at Tanggal 28 Agustus 2015. Memohon maaf sebesar-besarnya kepada seluruh pengguna media sosial, terutama kepada Oryza Ardyansyah, wartawan beritajatim.com dan teman-teman PWI Jember.
Mengakui kesalahan terhadap status saya yang menyebut Oryza Ardyansyah copy paste meme JFC tanpa mengatribusi sumbernya serta melanggar kaidah jurnalistik.
Bahwa sebenarnya :
- Meme JFC yang telah disebar di facebook atau media sosial lainnya merupakan milik publik dan bisa dishare ke mana pun;
- Bahwa foto yang saya kutip dari Lian Pira ternyata merupakan kutipan dari Achmad Fawaid;
- Pernyataan yang berkaitan dengan kaidah jurnalistik sesungguhnya tidak sepatutnya saya ungkapkan di Facebook.
Demikian surat pernyataan mohon maaf ini saya sampaikan dengan sadar tanpa ada paksaan siapapun. Bahkan, saya menyampaikan langsung kepada Oryza Ardyansyah yang disaksikan oleh pengurus PWI Jember.
Permohonan maaf ini akan disebar ke seluruh media sosial, terutama di facebook, dan status-status berkaitan persoalan di atas akan dihapus setelah surat pernyataan ini tersebar ke seluruh media sosial.
Selanjutnya, saya akan berhati-hati dalam mengunggah status di media sosial yang berkaitan dengan kepentingan publik. Demikian surat ini saya sampai untuk menjadi perhatian umum dan tidak diperpanjang lebih jauh.
Jember, 28 Agustus 2015
Yang membuat pernyataan
Y. Setiyo Hadi alias Yopi
Ini tentu peristiwa baik untuk dijadikan pelajaran bagi kita, bagaimana sebaiknya berhati-hati berkreasi, berucap, dan bertindak di dunia maya. Atas kejadian ini, seorang teman bernama Catur Budi Prasetiya memberikan apresiasi sebagai berikut;
"Respek kepada kang Oryza atas reaksi profesionalnya dalam merespon klaim pembaca sosmed. Respek juga pada mas Setiyo Hadi atas kerendahan hatinya untuk minta maaf secara offline dan online."
Teman-teman Kari Kecingkul Kalisat, banyak yang bisa kita petik dan pelajari dari kejadian di atas. Profesionalisme, azas kehati-hatian, rendah hati, dan hal-hal yang senada dengan itu. Teristimewa untuk Mas Oryza dan Mas Setiyo Hadi, terima kasih.
Catatan: Mas Setiyo Hadi, pertemanan di Facebook baru saja saya konfirmasi. Sepurane, ngene iki nek gagap teknologi.